Menembus 81.000+ Pendaftar, Dua Mahasiswa Teknik Lingkungan UPN Veteran Jawa Timur Terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026

Menembus 81.000+ Pendaftar, Dua Mahasiswa Teknik Lingkungan UPN Veteran Jawa Timur Terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026

Surabaya, 1 April 2026 — Menjadi bagian dari 2.000 mahasiswa terpilih dalam program Google Student Ambassador (GSA) 2026 bukanlah pencapaian yang mudah. Di tengah persaingan lebih dari 81.000 pendaftar dari seluruh Indonesia https://googlestudentambassador.id/listgsa , dua mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UPN “Veteran” Jawa Timur, Anggi Thalita Rossy atau Alita (25034010003) dan Bintang Romadhon Putra Al-asyhari atau Bintang (25034010040), berhasil melewati rangkaian seleksi dan dipercaya menjadi bagian dari program tersebut.

Bagi Alita, perjalanan menuju GSA berawal dari keberanian untuk mencoba dan mengambil kesempatan. Sebagai mahasiswa baru yang memiliki rasa ingin tahu terhadap teknologi, ia melihat kesempatan tersebut bukan sekadar ajang seleksi, tetapi sebagai ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan menciptakan dampak. Setelah melewati seleksi berkas dari lebih dari 81.000 pendaftar, Alita menghadapi tahap self-recorded interview hingga berbagai tantangan di media sosial. Baginya, setiap tahapan menjadi proses untuk belajar menyampaikan gagasan, menunjukkan karakter, serta membangun kepercayaan diri.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya aktif dalam berbagai kegiatan GSA, mulai dari Monthly Online Workshop hingga menghandle event di lingkungan kampus. Alita turut memperkenalkan pemanfaatan AI, khususnya Gemini, kepada mahasiswa melalui kegiatan edukatif dan creative content. Konten yang dibuatnya membahas pemanfaatan AI untuk kebutuhan akademik, riset, produktivitas, hingga kreativitas di era digital.

Tidak berhenti pada kegiatan edukasi, Alita juga berupaya membangun ruang belajar yang membuat teknologi terasa lebih dekat dengan mahasiswa. Baginya, AI bukan sekadar teknologi yang sedang berkembang, tetapi dapat menjadi thinking partner untuk membantu mahasiswa belajar, berkarya, mengeksplorasi ide, hingga menyelesaikan berbagai persoalan nyata. Melalui perannya sebagai Google Student Ambassador, ia ingin mendorong terciptanya ekosistem yang inklusif agar mahasiswa dapat belajar dan bereksplorasi tanpa merasa tertinggal oleh perkembangan teknologi. Konsistensi Alita selama program turut menghasilkan sejumlah pencapaian. Ia berhasil mencapai tier Gemini Rising Star 500 tercepat dari 2000 GSA, meraih posisi Runner Up 4 Monthly Content Champion GSA pada Mei 2026, serta menjadi Lucky Winner dalam kampanye nasional Gemini & Google AI pada April 2026 melalui karya digital storytelling.

Sementara itu, perjalanan Bintang menjadi Google Student Ambassador juga berawal dari keberanian untuk mencoba meskipun belum merasa sepenuhnya siap. Setelah melewati seleksi berkas di tengah persaingan lebih dari 81.000 pendaftar, ia menghadapi tahap self-recorded interview yang dilakukan dalam satu kali pengambilan tanpa cut dan editing. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa menjadi seorang ambassador bukan hanya tentang memberikan jawaban yang sempurna, tetapi juga tentang kemampuan menyampaikan gagasan, karakter, dan semangat secara autentik.

Tahapan seleksi kemudian berlanjut melalui berbagai tantangan di media sosial yang membuat Bintang semakin memahami pentingnya komunikasi dan personal branding. Dari proses tersebut, ia memperoleh pembelajaran bahwa seseorang tidak harus menunggu sampai merasa paling siap untuk berani mengambil sebuah kesempatan.

Kesamaan pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar bagi keduanya untuk melihat peran GSA sebagai ruang untuk terus berkembang dan memberikan dampak. Alita dan Bintang sama-sama ingin membawa teknologi lebih dekat kepada mahasiswa melalui ruang kolaborasi, komunitas, dan berbagai inisiatif kreatif. Keduanya juga memandang AI bukan sekadar tren, tetapi sebagai teknologi yang dapat dimanfaatkan secara bijak untuk belajar, berkarya, mengeksplorasi ide, dan menyelesaikan permasalahan nyata. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga perlu diiringi kemampuan membangun komunikasi serta personal branding yang positif di era digital.

Perjalanan Alita dan Bintang menunjukkan bahwa satu kesempatan dapat melahirkan pengalaman dan pembelajaran yang berbeda. Alita menemukan ruang berkembang melalui edukasi AI, kegiatan kampus, dan produksi konten, sedangkan Bintang memperoleh pengalaman melalui proses seleksi, komunikasi, dan pengembangan personal branding. Meski menempuh jalur yang berbeda, keduanya membawa semangat yang sama untuk terus belajar, berkolaborasi, dan memanfaatkan teknologi secara lebih inklusif serta bermakna bagi mahasiswa.

Keberhasilan menembus persaingan lebih dari 81.000 pendaftar bukan menjadi akhir perjalanan, melainkan awal bagi keduanya untuk mengambil peran lebih jauh dalam mendorong literasi digital dan pemanfaatan teknologi di lingkungan mahasiswa.


Ditulis oleh Hima T. L.